Pulau Maluku tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga masyarakatnya yang kreatif dan penuh semangat berwirausaha. Salah satu kisah inspiratif datang dari Lena Leiwakabessy, perempuan tangguh yang berhasil membangun dan mengembangkan usaha sablon yang kini dikenal luas dengan nama Leiwakabessy Sablon.
Lena Leiwakabessy lahir dan besar di Ambon, Maluku. Sejak muda, ia telah terbiasa melihat orangtuanya bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Latar belakang ekonomi keluarga yang sederhana membuat Lena peka terhadap pentingnya perjuangan dan tanggung jawab.
Selepas lulus SMA, Lena sempat bekerja di toko milik pamannya. Dari pengalaman itu, Lena semakin memahami arti pelayanan pelanggan dan manajemen usaha sederhana. Namun, Lena memiliki impian membangun usaha sendiri—sesuatu yang bisa membantu dirinya, keluarga, dan masyarakat sekitarnya.
Tahun 2012 menjadi momentum perubahan bagi Lena. Ia melihat peluang usaha sablon di Maluku yang masih jarang pesaing, sementara permintaan akan kaos bertema lokal dan kebutuhan sablon event komunitas perlahan meningkat.
Berbekal tabungan seadanya dan dukungan keluarga, Lena memberanikan diri membeli alat sablon manual. Ia memulai usaha di garasi rumah dengan bantuan adik-adiknya. Awal mulanya, pesanan masih sangat sedikit—hanya dari teman dan kerabat dekat.
Tidak mudah membangun kepercayaan di tengah keterbatasan modal dan pengalaman. Namun, Lena tidak menyerah. Ia rajin memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produknya. Perlahan, lewat hasil kerja kerasnya, pesanan dari sekolah, komunitas hingga institusi mulai berdatangan.
Lena memahami pentingnya kualitas. Ia pun menjaga standar hasil sablon, dari pemilihan bahan, tinta, hingga ketelitian pengerjaan. Agar usahanya bertahan, Lena terus belajar teknik sablon baru baik secara otodidak maupun mengikuti pelatihan daring dan luring.
Memasuki tahun 2015, Lena mulai memperluas jenis produk sablon meliputi tas, masker kain, topi, dan merchandise lainnya. Ia juga mulai membuka layanan desain custom agar pelanggan bisa mendapat produk yang lebih personal dan sesuai kebutuhan.
Pandemi COVID-19 membawa tantangan besar bagi banyak pelaku usaha di Maluku, termasuk Lena. Banyak kegiatan yang dibatalkan, permintaan kaos event turun drastic. Namun, Lena tidak menyerah. Ia segera mengalihkan produksi ke masker kain sablon dan merchandise yang sedang dibutuhkan masyarakat selama masa pandemi.
Inovasi tersebut ternyata diterima dengan baik. Lena bahkan berhasil merambah pasar online melalui marketplace, sehingga produknya tidak hanya dikenal di Ambon melainkan juga di luar Maluku. “Setiap tantangan pasti ada jalan keluarnya, yang penting kita mau adaptasi dan berusaha, tidak berputus asa,” kenang Lena.
Saat usaha sablonnya mulai berkembang, Lena tidak lupa berbagi. Ia banyak merekrut anak muda dan ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk belajar keterampilan sablon. Selain memberi lapangan pekerjaan, Lena bersama timnya rutin mengadakan pelatihan terbuka sehingga semakin banyak warga lokal yang bisa mengembangkan potensi diri.
Leiwakabessy Sablon juga kerap mendukung berbagai kegiatan komunitas seni, pendidikan dan olahraga di Maluku. Lena menegaskan, “Bagi saya, keberhasilan usaha bukan hanya soal keuntungan, tapi juga manfaat yang bisa kita berikan untuk lingkungan sekitar.”
Kisah Lena Leiwakabessy membuktikan bahwa kerja keras, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar adalah kunci dalam membangun usaha dari nol. Ia tidak mudah menyerah dengan keterbatasan modal atau tantangan zaman. Keberanian untuk berinovasi serta kepekaan terhadap kebutuhan pasar membuat usaha Leiwakabessy Sablon semakin berkembang.
Lena juga menekankan pentingnya hubungan baik dengan pelanggan. Ia selalu menerima masukan dan menjadikan kritik sebagai bahan perbaikan. Di Leiwakabessy Sablon, kualitas dan kepuasan pelanggan selalu menjadi prioritas utama.
Lena berharap kisahnya bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda Maluku untuk berani mengambil langkah dan membangun usaha. Menurutnya, setiap orang punya peluang sukses asalkan mau berusaha, tekun, dan tidak takut gagal. Ia pun kerap diundang menjadi pembicara dalam seminar kewirausahaan untuk berbagi pengalaman dan memotivasi anak-anak muda.
“Saya ingin teman-teman muda di Maluku tidak hanya jadi penonton, tapi juga pelaku. Jangan malu memulai dari bawah, karena dari bawah kita belajar menghargai proses dan hasil,” pesannya.
Kisah Lena Leiwakabessy dan Leiwakabessy Sablon adalah contoh nyata bagaimana ketekunan dan semangat pantang menyerah bisa mengubah keterbatasan menjadi peluang besar. Dari garasi sederhana di Ambon, Lena membuktikan bahwa perempuan Maluku mampu menjadi penggerak ekonomi dan inspirasi bagi banyak orang.
Semoga semangat dan nilai-nilai yang dipegang Lena terus menyala di hati para pelaku usaha dan generasi muda di Maluku maupun Indonesia secara umum, sehingga lahir lebih banyak kisah sukses dan perubahan positif di masa depan.